Kabar Gembira : Insya Allah TPG Aman

Untitled vvv

dapurguru.com – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy, meminta para guru tidak meresahkan penghematan anggaran tunjangan profesi guru (TPG). Muhadjir menegaskan pemotongan tidak akan berdampak negatif kepada guru.

“Jangan khawatir, Insya Allah aman. Tidak ada pemotongan, melainkan merupakan dana perubahan,” ujar Muhadjir kepada wartawan di Jakarta.

Muhadjir juga mengatakan jika perbedaan data guru yang tesertifikasi wajar terjadi. Sebab, dalam data selalu asa perubahan seperti pensiun, meninggal, beralih profesi, ada pula karena belum memenuhi srayat mengajar selama 24 jam. Karena itu, pihaknya berjanji akan memperlunak aturan agar persoalan akibat sertifikasi ini tidak menjadi sesuatu yang masif.

“Dalam waktu dekat, akan keluar Permendikbud untuk mengatur soal ini,” tambah Muhadjir.

Ssbelumnya, Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan Kemenkeu,  Budiarso Teguh Widodo, menjelaskan ada penghematan tunjangan profesi guru sebanyak Rp 23,4  triliun. Penghematan itu didasari beberapa hal, yakni berkurangnya jumlah guru yang berhak memerima tunjangan, pensiun dini, mutasi pejabat.

Pengawasan TPG akan Ditingkatkan

Sementara itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) tengah merumuskan pengawasan penyaluran tunjangan profesi guru (TPG) di daerah.

“Pengawasan TPG di daerah. Akan kita tingkatkan (pengawasannya) jangan sampai ada sisa yang terlalu besar,” kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy di Kantor Kemendikbud, Jakarta.

Ia meminta para guru tidak resah dengan adanya rencana pemerintah menunda penyaluran tunjangan profesi guru (TPG) ke daerah. “Jangan neror saya resah-resah, tenang saja ya,” ujar dia.

Sebelumnya, pemotongan anggaran TPG oleh Kementerian Keuangan mulai membuat resah sejumlah guru di daerah. Mereka khawatir betul keputusan pemerintah pusat ini berdampak negatif.

Muhadjir berujar, pemerintah tidak akan mengurangi TPG yang diterima setiap guru. Saat ini, pemerintah tengah mencoba mengawasi penyaluran TPG ke daerah.

Tujuannya, agar tidak ada Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran Tahun Berkenan (Silpa) TPG yang mengendap di daerah. Namun, mantan rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu tidak menjelaskan secara rinci teknis pengawasan TPG.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Retno Listyarti meyakini TPG sangat berdampak pada kesejahteraan para guru, khususnya di daerah. Sayangnya, pada 2014 ada tiga daerah yang melapor TPG tertunda sampai enam bulan. Padahal, dana TPG sudah ditransfer oleh pemerintah pusat ke daerah.

Retno berujar, banyak pemerintah daerah yang ‘nakal’ menggunakan TPG dengan alasan APBD yang telat. Kendati akhirnya pemda tersebut membayar TPG, namun tidak tindakan tersebut tidak dibenarkan. “Sebelumnya, pada 2012 ada yang TPG disimpan di bank supaya berbunga, ditahan sebulan,” ujarnya.

Retno mengaku, tidak pernah tahu berapa anggaran TPG yang seharusnya ia terima setiap bulan. Sebab, selama ini jumlahnya berbeda-beda. “Nggak tahu rinciannya. Gaji per bulan kan jelas, harusnya klop dengan besaran gaji,” jelasnya.
sumber : http://www.republika.co.id

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: